Trust of Tomorrow


11020905_10207139337341759_4187384599377924415_n.jpg

“You be you and I’ll be me, today and today and today, and let’s trust the future to tomorrow. Let the stars keep track of us. Let us ride our own orbits and trust that they will meet. May our reunion be not a finding but a sweet collision of destinies!”
Jerry Spinelli – Love, Stargirl

Advertisements

Tentang Dua Kehilangan


Orang datang dan pergi silih berganti mengisi hari-harimu. Semua kehidupan manusia akan sama. Datang-pergi, bertemu-berpisah. Ada yang telah tiada, tapi dirinya masih mengisi hatimu. Tawa dan ucapannya masih sangat bisa kau dengar di benakmu. Itu kehilangan pertama: kehilangan fisik.

Ada juga orang yang masih bersamamu hingga kini. Mungkin malah begitu dekat, tetapi kau merasa dirinya tak ada lagi. Itu kehilangan kedua: kehilangan jiwa. Kata temanku, inilah kehilangan yang paling menyakitkan. Sebab kau bukan kehilangan seseorang yang bisa dicari wujud-nya, tetapi kehilangan harapan dan kebahagiaan. Batas antara fakta dan fiktif, antara kenyataan dan harapan, menjadi samar. Rasa kehilangan itu menjadi sangat kompleks, terlalu sulit untuk dijelaskan. Rasanya seperti ada ruang kosong. Mungkin orang akan berkata, “Helooo, itu dia di sampingmu! Kenapa kau bilang dia tidak ada?!” Dan kau pun tak tahu harus menjelaskan apa.

Namun bagi siapa yang pernah merasakan kehilangan ini, ia akan disesaki kerinduan mendalam. Ia akan merasa tidak ada yang bisa mengerti rasa yang ia kecap. Ia menjadi pribadi yang melankolis. Imajinasi indah tentang kebersamaan dengan dia yang hilang akan begitu memerihkan.

Kadang sebuah hubungan berjalan begitu kaku. Kau anak, dia ibu. Kau ibu, dia anak. Kau ayah, dia anak. Kau anak, dia ayah. Tidak ada yang lain kecuali nasehat dan taat. Kadang bayangan tentang hubungan anak dan orangtua hanya surga dan neraka, tidak lebih.

Saat kau merasa tak bisa “berbicara” dengan ibu atau ayahmu, kau merasakan kehilangan semacam itu. Ketika kau merasa tak bisa “berbicara” dengan anakmu, kau merasakan kehilangan itu. Saat kau merasa tak bisa “berbicara” dengan pasanganmu, kau merasakan kehilangan itu. Saat kau merasa tak bisa “berbicara” dengan saudaramu, kau merasakan kehilangan itu. Ketika kau berharap dia berbicara penuh cinta dan antusias kepadamu, namun hanya ungkapan datar atau bahkan kasar yang kau dengar. Dan marah adalah satu-satunya cara komunikasi. Di situlah rasa kehilangan dan kerinduanmu mendesakmu ke tepi jurang.

Berbahagialah dirimu yang tidak pernah merasakan kehilangan semacam ini. Tiada nikmat yang lebih indah daripada itu. Tapi jikau kau berada dalam kehilangan itu, selamilah lukamu. Rasakan sakitnya. Yakinlah suatu saat kau akan kembali menemukan dirinya yang hilang. Dan berbahagialah dirimu yang bisa kembali menemukannya.

Aku menemukan ibuku kembali siang tadi, setelah kuputuskan untuk “menemui”nya beberapa tahun yang lalu. Kuputuskan harus aku yang menemukan dirinya. Kami mengobrol kecil lewat telepon. Suaranya begitu riang, tak pernah kudengar suaranya seriang itu sepanjang hidupku. Seingatku dia lebih sering menggerutu. Kami mengobrol tentang rencana di Tanah Haram. Setelah sepanjang masa kecil dan remaja aku pun hanya belajar untuk takut kepadanya, aku sudah mulai belajar memijiti tubuh rentanya. Besok, aku akan belajar memeluknya. Aku ingin menemui jiwanya sebelum kehilangan fisiknya, Tuhan. Aku ingin membawanya ke pintu rumah-Mu. Tolong perkenankan ….

Kadang seorang anak hanya ingin dipeluk dan diberi senyuman. Itu juga yang sejak kecil aku inginkan. Dan kuyakin semua anak menginginkan hal yang sama. Anak-anak hanya ingin dipeluk saat orangtuanya marah kepadanya. Setiap pasangan juga hanya ingin dipeluk jika merasa dibenci. Sayangnya, sentuhan adalah barang mahal bagi mereka. Setiap ibu harus sering-sering menyentuh fisik dan hati anaknya. Para ayah, jangan takut jadi perempuan lembek dengan memeluk anakmu.

Kita memang tidak bisa memilih lahir dari rahim siapa, tidak dapat memilih ayah, apakah mereka dari seorang hebat atau pecundang. Tapi kita bisa memilih untuk menjadi orangtua yang baik untuk anak-anak kita. Nah, lucunya, aku belajar ini dari anakku. Kata orang, sulungku itu bandel dan paling susah diberi tahu. Tapi jika anak itu kupeluk, tiba-tiba kami mengerti satu sama lain, meski tanpa kata. Ia lebih mudah diminta bersikap bila sering dipeluk. Bukankah ini cara komunikasi yang ajaib?

[Syuting Kick Andy] Indah Pada Waktunya


Siang itu panas. Tubuh ini ikut panas dan berkeringat. Saya gagal menyukai Parung karena macetnya yang luar biasa. Kepala agak pening karena beberapa hari belakangan kurang tidur. Rabu (29/10/13) itu adalah hari yang melelahkan buat saya.  Baru saja saya selesai memberikan workshop kepenulisan bertajuk Writing Your Story untuk 370 anak kelas 7 di Mts Negeri Parung. Menyenangkan sekali bertemu dengan wajah-wajah muda yang penuh potensi. Suara saya habis. Karena setiap saya mengisi pelatihan outdoor dan semi outdoor dengan peserta di atas 300 orang, suara menghilang dan napas terengah-engah di tiga per empat acara.

Sebuah sms masuk dari seorang sahabat baik saya. “Jangan lupa nanti malem. Jam 5 registrasi. Doain aku ya. Tips ngatasin groginya udah aku praktekin sama Mas Haviz. Makasih banget sudah menemani perjalananku sejauh ini.”

Di atas KRL menuju kantor, dada saya disesaki berbagai macam rasa. Semua peristiwa sejak pertama kenal penulis yang akhirnya menjadi sahabat saya itu terputar kembali. Kami bertemu karena pekerjaan. Saya editor dan dia penulis. Kami dipertemukan oleh penulis senior Pipiet Senja. Tapi kami membuang batasan bahwa kami hanya sekadar rekan kerja. Saya, Pipiet Senja, dan Elmy biasa berdiskusi dan berbagi rasa.

Gambar

Kiri-kanan: Saya, Pipiet Senja, Elmy, Haviz, sedang diskusi kepenulisan

Ketika awal penyusunan buku tentang dirinya yang ditulis oleh suami Elmy, kami mengalami masa-masa berat bersama. Terbitnya buku itu sempat membuat kami sama-sama tidak bisa tidur karena terkait kesalahan prosedur dengan sebuah lembaga. Saya beberapa kali bolak-balik menemui mereka di RS PMI bertepatan dengan jadwal cuci darah Elmy di hari Rabu atau Sabtu. Selain pertemuan yang membahas soal teknis penulisan, pemotretan, hingga urusan perizinan. Sejak itu sampai detik ini, dia dan suaminya menjadi inspirasi tanpa tepi bagi saya. Setiap kali ada keperluan apa pun di Bogor di hari Sabtu, saya sempatkan untuk bertemu dengannya di RS PMI. Di sanalah saya jumpai senyum lebarnya di atas kasur pasien di ruangan Hemodialisa (cuci darah). Seperti biasa, di atas kasurnya terserak berbagai barang dagangan. Perawat bolak-balik bertransaksi di ranjangnya. Elmy memang selalu membawa barang jualan saat cuci darah yang berdurasi lima jam itu. Dia sama sekali tidak seperti orang sakit. Duduk dan mengobrol dengan para perawat sementara pasien lainnya memilih memejamkan mata. Selain itu, rata-rata pasien ginjal menghitam kulitnya akibat cuci darah, tapi sahabat saya itu berkulit kuning segar.

Elmy Suzanna sudah menjalani 9 tahun cuci darah, dua kali dalam seminggu, karena ginjalnya sudah tidak lagi berfungsi. Dan seumur hidupnya ia harus menjalani perawatan cuci darah. Sembilan tahun yang lalu ia bertanya kepada Tuhan, mengapa ini terjadi? Mengapa pun akhirnya kedua orangtuanya bercerai? Ia sampai tidak berani bermimpi menjalani kehidupan normal seorang gadis. Hingga ia tiba pada satu titik bahwa kepasrahan adalah jawaban atas pertanyaannya selama ini. Sejak itu ia bertekad untuk menjadi penuntun bagi adik-adiknya. Ia tidak boleh kehilangan arah. Elmy aktif menjadi relawan di Indonesia Kidney Care Club, sebuah rumah bagi para pasien ginjal. Di tengah kondisinya yang sakit, ia tak pernah lelah membantu teman-temannya untuk berobat ke sana ke mari, menghibur mereka. Elmy adalah api dan air dalam satu tubuh. Mungkin karena itulah akhirnya Allah SWT memberinya hadiah yang amat manis: seorang suami. Ketika saya beberapa kali menemani mereka dalam talkshow buku mereka, semua orang bertanya dari apakah hati lelaki itu terbuat? Hingga nekad mempersunting seorang wanita yang memiliki penyakit berat dan kemungkinan besar tidak dapat memiliki keturunan. Tapi lelaki itu hanya menjawab bahwa istrinya mungkin sakit, tetapi istrinya memiliki lebih dari apa yang dimiliki wanita normal. Lelaki itu Haviz Deni, yang darinya saya belajar banyak hal tentang sederhananya kebahagiaan.

Gambar

Saya dan Elmy yang sedang melakukan hemodialisa (cuci darah)

Lamunan saya buyar ketika melihat plang besi di peron bertuliskan “Cawang”. Satu stasiun lagi saya harus turun. Pukul dua saya tiba di kantor. Sekitar satu setengah jam mengurus beberapa hal di kantor, saya dan empat teman kantor membelah macetnya Jakarta menuju sebuah studio di Metro TV. Saya, rekan redaksi, Manajer Marketing, dan Direktur Pustaka Al-Kautsar. Kami diundang untuk hadir. Malam ini Elmy dan suaminya, Haviz akan menjadi tamu Andy Noya di acara Kick Andy. Beberapa hari yang lalu kru Kick Andy menghubungi kantor kami dan memborong 550 eksemplar buku mereka untuk dibagikan saat taping acara dan melalui website Kick Andy.

Gambar

Buku yang ditulis Haviz dan Elmy, Titip Satu Cinta, terbitan Salsabila Pustaka Al-Kautsar Group

Di tengah padatnya lalu lintas, saya merenungi perjalanan hidup Elmy dan Haviz. Allahu akbar, Dia Yang Maha Besar dan Agung. Wa lillahil hamd, dan hanya bagi-Nyalah segala pujian. Rencana-Nya begitu indah.

Acara bertema Indah Pada Waktunya itu menghadirkan 3 narasumber. Pertama, Dias, seorang anak muda berusia 26 tahun yang baru menyelesaikan masternya di Glasgow. Kuliahnya diselesaikan dengan gemilang, dalam waktu lebih cepat dibandingkan mahasiswa pada umumnya, dengan predikat cum laude. Di usia 5 tahun dia divonis mengidap leukimia stadium lanjut. Berkat perjuangan Dias dan keluarganya, Dias selamat dari leukimia.

Kedua, Taufiq Effendi, seorang tunanetra yang tidak hanya berhasil keluar dari keterpurukannya pasca kebutaan yang ia alami di usia 15 tahun akibat kecelakaan, tapi ia juga menyabet berbagai beasiswa bergengsi di luar negeri. Bersama istri dan seorang anaknya, Taufiq kini tinggal di Sydney untuk menyelesaikan masternya. (Di akhir acara saya mencari kesempatan untuk bertemu dengan Mas Taufik. Dan akhirnya bertemulah dengannya di rumah mayanya di sininya.)

Ketiga, siapa lagi kalau bukan sahabat saya, Elmy Suzanna dan suaminya.

Acara berlangsung cukup panjang. Belum lagi re-take yang harus dilakukan karena Andy Noya berulang kali salah bicara. Saya melihat Andy Noya sebagai orang yang cerdas dan memiliki selera humor yang baik. Kami semua begitu terhibur dengan canda-canda ringan dan gayanya yang santai. Elmy yang biasa kelihatan grogi dalam setiap talkshow bersama saya, kali ini terlihat begitu rileks. Siang tadi ia memang mengirimkan pesan pendek kepada kami semua untuk mohon doa. Sampai di jejaring sosial pun saya sempat posting status untuk minta doa teman-teman saya. Karena saya beberapa kali cerita tentang Elmy di sana. Dan sepertinya memang banyak yang mendoakan, Doa itu pun tampaknya makbul.

“Usaha apa saja yang Anda lakukan untuk sembuh?”

“Meski kata dokter ginjal saya sudah rusak dan tidak mungkin sembuh, saya tetap berusaha. Saya tidak pernah berhenti memohon kesembuhan. Tapi satu hal ingin sekali saya lakukan tapi belum kesampaian: memohon kesembuhan di Baitullah.”

Saya tercenung detik itu. Ya Rabb, kerinduan kami sama, untuk sesuatu yang berbeda. Siapakah yang tidak ingin bersimpuh di Rumah-Nya? Siapakah yang tidak ingin mengadukan semua kelelahan itu di altar-Nya. Siapakah yang tidak menginginkan perjamuan suci dengan Tuhan-Nya?

Air mata saya jatuh ketika Andy Noya tiba-tiba berkata, “Keinginan Anda akan terwujud.”

Tiba-tiba seorang lelaki berwajah Arab perlente -yang saya yakin dia bukan cuma tukang antar papan- maju ke depan, memberikan sebuah papan bertuliskan Hadiah Umroh bersama ALISAN untuk dua orang. Beberapa penonton, termasuk saya, menyusut air yang tiba-tiba turun dari mata, memenuhi hidung. Allahu akbar, Dia Yang Maha Besar dan Agung. Wa lillahil hamd, dan hanya bagi-Nyalah segala pujian.

Di akhir acara, Andy Noya memberikan pertanyaan penutup yang pas sekali. “Apa Anda bahagia menikah dengan Elmy?” selidik Andy Noya.

Dengan lugasnya Haviz menjawab, “Mudah untuk berbahagia di samping wanita seperti Elmy.”

Ah, betapa saya harus belajar banyak dari Elmy. Betapa indahnya mendengar orang-orang di sekitar, apalagi orang yang paling kita cintai mengatakan hal seperti itu.

Saya menekuri langit-langit studio yang berkelipan lampu. Ya Rabb, saya merasa beruntung dapat bertemu dengan orang-orang luar biasa yang memberi energi untuk orang-orang di sekitarnya. Haru saya berkesempatan menjadi bagian dari hidup mereka. Suara Delon mengalun mengisi dinding hati kami semua. Malam itu betul-betul malam yang indah buat saya.

Gambar

Ki-ka: Saya, Elmy, dan Haviz setelah syuting Kick Andy

Ps. Acara ini akan tayang tanggal 22 dan 24 November 2013. Tonton ya. Selamat mengenal Elmy Suzanna.

Image

Ular-Ular Ayah


Ular-Ular Ayah

Anak saya jadi korban ular-ular ayahnya O.O. Molurus albino sepasang, umur 3thn, panjangnya 2m yang warna kuning. Yang dipegang Caca ball pyton, umur 6bln, panjang 75cm. Inilah mainannya Caca dan Kakak tiap hari selain segala macam reptil yang menurut ayahnya imut-imut

Kemping di Pulau Pari


Sebetulnya pengalaman saya ke Pulau Pari sudah lama juga berlalu, saat perayaan tahun baru 2013. Tapi baru sekarang saya berhasrat duduk agak lama dan menuliskan pengalaman saya di sana.

Saya dan keluarga bergabung dalam trip ini komunitas BEKAP Adventure dalam Pesta Pantai Pulai Pari. BEKAP Adventure adalah sebuah komunitas pecinta alam yang basecamp-nya berlokasi di Bekasi.

Saya sendiri tidak pernah menyengajakan diri untuk merayakan Tahun Baru. Malam tahun baru biasanya saya tidur di rumah, atau paling banter barbeku di Pak RT tetangga sebelah. Apalagi kalau bukan jadi tukang kipas ikan bakar. Yah, lumayan bisa menonton kembang api sambil miris membayangkan jika uang yang digunakan untuk membeli kembang api dipakai untuk beli beras dan dibagi-bagi. Tapi daripada menyumpah-nyumpah dan merusak suasana, lebih baik saya menikmati keindahan kembang api yang berpendar warna-warni, kontras di atas langit yang hitam.

Pagi hari (30/12/12), ketika sampai di Muara Angke, waktu sudah menunjukkan pukul 8 lewat. Saya bersama suami dan dua anak saya yang berusia 8 dan 3 tahun, bersama rombongan dari BEKAP menunggu kapal pukul 10. Kapal yang berangkat dari sana biasanya ada di pukul 7, 10, dan pukul 3 sore. Jika kita bisa sampai Muara Angke sebelum pukul tujuh, itu waktu yang paling enak sebetulnya, karena matahari masih lumayan lembut, tidak terlalu menyengat kulit. Pukul 9, meski masih terbilang pagi, panasnya menyiksa juga. Jika kita harus menunggu kedatangan kapal, sebaiknya berdiam di sekitar pom bensin. Di situ ada ATM, toilet, dan mini market kecil. Daerah muara di dekat kapal sangat tidak nyaman, banjir rob, bau, dan tidak ada tempat berteduh yang lumayan. Cuma ada warung-warung kecil yang kumuh di sepanjang muara. Pemandangannya juga tidak enak, air lautnya hitam, hiruk-pikuk orang naik turun kapal dan berseliweran. Kalau ingin mengamati aktivitas penduduk sekitar situ sambil ambil foto bolehlah tinggal beberapa menit, setelah itu lebih baik tunggu di pom bensin sampai kapal datang.

13676439851401825549

Perjalanan dari Muara Angke menuju Pulai Pari ditempuh dalam waktu kurang lebih dua jam dengan perahu kayu, atau kalau ingin lebih cepat satu jam silakan bertolak dengan menggunakan perahu cepat dari Marina, Ancol. Tarifnya tentu lebih mahal dari kapal kayu Muara Angke.

Meninggalkan Teluk Jakarta, saya mulai melihat gugusan pulau dengan latar belakang langit dan air yang lebih biru. Pulau yang terlihat menonjol pertama kali adalah Pulau Onrust. Bangunan benteng bersejarah peninggalan Belanda tampak jelas dari kejauhan. Satu jam tiga puluh menit kemudian dermaga Pulau Pari sudah terlihat dari kejauhan. Alhamdulillah ternyata kali ini waktu tempuhnya lebih cepat. Ngebut barangkali ya.

136764550256274359
13676431631860298365
Dermaga Pulau Pari

Pari adalah salah satu pulau di Kelurahan Pulau Pari, Kecamatan Kepulauan Seribu. Pecahan pulau yang eksotis ini berada di Teluk Jakarta dan masih masuk provinsi DKI Jakarta. Bayangkan, di tengah keruwetan Jakarta ternyata ada surga tersembunyi. Kepulauan Seribu terdiri dari 110 pulau yang membentang sepanjang 45km di utara Laut Jawa. Tiga puluh enam pulau berpenghuni, 11 pulau merupakan resor, 2 pulau tempat situs bersejarah, 23 dimiliki oleh perseorangan, sisanya tidak berpenghuni.

Satu hal istimewa dari Pulau Pari yang membedakannya dengan pulau-pulau lain di Kepulauan Seribu adalah ketenangan dan kenyamanannya. Jumlah penduduk dan jumlah rumah di Pulau Pari memang tidak terlalu banyak. Pulau ini hanya bisa menampung kurang lebih 200 orang wisatawan. Keindahan bawah laut yang terjaga dengan baik adalah ciri khas Pulau Pari. Pantai Pasir Perawan-nya adalah pusat keindahan pulau yang masih dalam wilayah DKI Jakarta ini. Rasanya luar biasa sekali, masih ada alam yang seperti ini di Jakarta.

Dahulu, sebelum tahun 1900-an, pulau ini tak berpenghuni, tak bernama, dan menjadi tempat pelarian orang-orang asli Mauk, Tangerang-Banten, yang menolak kerja paksa yang diberlakukan oleh kolonial Belanda. Pada mulanya hanya satu keluarga yang datang. Lama kelamaan mereka memilih untuk menetap di pulau yang tenang itu. Setelah mendengar bahwa pulau di pulau itu mereka bisa hidup dengan damai dan tenang, bertambah banyaklah keluarga yang menetap di sana. Karena di perairan Pulai Pari banyak ditermukan ikan pari, maka pulau ini disebut Pulau Pari. Sekitar tahun 1943, saat para penduduk awal pulau ini menikmati ketenangan mereka, tiba-tiba datang tentara Jepang. Mereka pun dipaksa untuk bekerja sebagai nelayan tanpa dibayar. Untungnya tak lama kemudian kemerdekaan Indonesia diproklamirkan, sehingga para tentara Jepang pun akhirnya meninggalkan pulau itu.

Kakak Kiya dan Adik Caca menuju camping ground. Asyiik!

13676450651899584571

13676434061181599142

Saya dan teman-teman segera bersiap membangun tenda di lapangan berumput luas di dekat Pantai Pasir Perawan, di sebelah timur Pulau Pari. Kami tidak akan menginap di homestay seperti biasanya pengunjung yang datang ke sana, melainkan tidur di tenda. Pengalaman tidur di tepi pantai tentu tidak boleh dilewatkan. Asyiknya jangan ditanya! Saya dan suami saja sudah macam anak kecil saat main air, jangan tanya anak-anak. Liburan ke pulau sambil kemping dengan anak-anak itu kombinasi yang luar biasa sekali. Mereka belajar hidup dalam keterbatasan, belajar mandiri, dan tentu saja menikmati suasana yang sangat jauh berbeda sekali dengan keseharian mereka. Sangat hemat dan efektif, karena jarak tempuh hanya sebentar, sementara pemandangan dan suasananya seratus delapan puluh derajat dengan suasana di kota besar tempat kami tinggal.

Meski karena kemping itulah yang paling susah adalah membuat telepon genggam saya tetap menyala. Untuk mengisi baterai, saya harus nongkrong di warung-warung pinggir pantai dan meminta energi listrik kepada mereka. Atau mendekam di masjid setelah shalat.  Minum kopi sambil mengobrol dengan penduduk asli merupakan pengalaman yang menarik. Mereka umumnya ramah dan senang mengobrol. Sesekali saya bercanda dan berfoto bersama anak-anak Pulau Pari. Kulit anak-anak Pulau Pari yang menghitam membuat gigi mereka terlihat putih saat tergelak. Saya sempat bertanya kepada ibu pemilik warung tentang pengelolaan sampah di pulau ini. Ternyata di ujung Pantai Pasir Perawan ada tempat pembuangan sampah. Secara berkala pasir digali dan sampah dipendam di dalamnya. Sayangnya sampah botol dan kemasan plastik masih banyak terlihat di sekitar warung.

1367644295835458630
Pantai Pasir Perawan
13676448501676792330
Anak saya bersama anak-anak Pulau Pari

Menurut penduduk setempat, istilah Pantai Perawan diberikan karena pada awalnya sangat sulit untuk membuka rute menuju pantai itu. Pepohonannya sangat tinggi dan tajam batang kayunya. Melihat air pantainya yang bening berwarna toska muda dan pasir yang putih dan halus, tak berlebihan jika pantai itu disebut Pantai Pasir Perawan. Bila kita berdiri memandang laut dari bibir pantai, kita akan melihat beberapa pulau kecil yang masuk dalam Kelurahan Pulau Pari, seperti Pulau Tikus, Tengah, Burung, Biawak dan Kongsi.

1367645361275385370
Pulau-pulau kecil di sekitar Pantai Pasir Perawan

Saat matahari terbit adalah waktu yang paling tepat untuk berjalan santai di Pantai pasir Perawan. Matahari akan datang dari arah laut, karena itu pemandangannya akan menjadi sangat luar biasa menakjubkan. Langit pagi yang kemerahan bercampur biru dan ungu tampak indah dipadu hijau toskanya air pantai. Saya melihat beberapa penduduk asli menyelam di perairan dangkal di sekitar pulau-pulau kecil yang tampak dari tepi pantai. Rupanya mereka sedang mencari kempa, sejenis kerang besar yang berduri-duri.

Saya menyusuri pantainya yang berpasir lembut sambil menikmati tamparan angin dari arah laut. Jangan bandingkan kebersihan udaranya dengan di pusat kota Jakarta, itu sama saja seperti membandingkan Jakarta dengan New York! Jauh bener! Udara di Pulau Pari sangat bersih, jauh dari polusi. Karena di pulau ini tidak ada mobil dan kendaraan umum bermotor. Mungkin sesekali melintas satu dua sepeda motor dengan kereta kecil di belakangnya untuk mengangkat barang, tetapi itu jarang dan hanya di saat sedang ramai wisatawan. Pagi hari di Pantai Pasir Perawan saya jamin benar-benar bersih tak terbandingkan. Bagi pekerja yang setiap hari berjibaku dengan polusi di jalanan kota Jakarta, perjalanan ke Pulau Pari adalah kenikmatan tersendiri. Saya sempatkan diri untuk duduk di kursi-kursi kayu yang ada di tepi pantai sambil memandangi pantai itu dari ujung ke ujung, mendengarkan suara angin yang datang diam-diam. Keheningan pagi menyambut datangnya matahari terasa begitu agung dan indah.

1367645135486966326
bersepeda di Bukit Matahari

Jika matahari mulai tenggelam, tempat yang tepat untuk mengucapkan selamat tidur kepada matahari adalah di Bukit Matahari di selatan pulau, dekat dengan dermaga. Di sana berjejer pepohonan yang rindang dan tinggi. Biasanya pengunjung bersepeda di sekitar situ. Sepeda memang menjadi alat yang banyak digunakan oleh pengunjung. Rumah-rumah penginapan biasanya menyediakan paket khusus dengan fasilitas antara lain sepeda. Tentu enak sekali mengelilingi pulai dengan sepeda. Jalan-jalan di antara perumahan di sana hanya muat untuk dua jalur sepeda. Meski udara dan matahari lebih terasa panas, tetapi karena pohon-pohon besar tidak ditebangi, berjalan kaki pun tetap nyaman. Jika ingin main di pantai, bisa juga menyewa kano di Pantai Pasir Perawan.Sambil mendayung perahu ramping itu, kita seperti disuguhkan parade hiburan alam spesial dihidangkan oleh Tuhan langsung di sekeliling pantai. Memandangi horizon yang tak bertepi, lisan ini tak henti mengucapkan tahmid dan tasbih.

13676445382034100123
camping ground kami di malam hari
1367644995702356796
Tepat tengah malam tahun baru 2013 di camping ground kami

Malam hari, jangan lupa barbeque di pinggir pantai. Suasana tenang dan obrolan santai di pantai bisa mengakrabkan siapa pun yang ada di sana. Warung-warung di pinggi pantai masih tetap buka jika pengunjung masih ramai. Pesanlah segelas kopi jahe untuk mengusir dingin malam. Nikmatnya tak terkatakan! Sayangnya hari kedua ini tidak terjadi lagi karena hujan deras turun. Kami terpaksa mendekam di tenda. Asyik juga!

Pukul sepuluh keesokan harinya, saya dan teman-teman sudah berada di atas kapal menuju selatan Pulau Pari. Rompi pelampung sudah terpasang kuat di badan. Google dan pipa snorkle pun sudah bertengger di kepala. Kaki katak pun mulai dipasang saat antri di pintu kapal. Dan … byur! Sedetik kemudian saya sudah berada dua meter di atas terumbu karang dan mulai bernapas dari mulut. Berenang di laut lebih melelahkan, karena kita dihempas arus dan angin laut. Jika air laut masuk ke tenggorokan pun rasanya sakit, tidak mengenakkan.

1367644601512900401
Si Ayah dan anak-anak siap terjun ke air
13676446762132455309
bertebaran snorkling
1367646591471567348
honeymoon backpacking!

Lepas snorkling, kami tiba di dermaga dengan perut lapar. Di sekitar dermaga banyak penjual makanan, jangan takut kelaparan meski tidak membawa penganan. Di dekat Bukit Matahari penduduk sekitar menyewakan jet ski, banana boat, dan sofa boat (ini karangan saya saja yang tidak tahu nama perahunya). Saya tidak mau melewatkan kesempatan untuk mencoba sensasi naik perahu yang ditarik dengan kecepatan tinggi itu. Awalnya sempat meremehkan, tapi setelah terbanting-banting dan melayang di atas perahu karet itu, saya minta ampun deh karena sudah sombong.

Untuk aktivitas shalat dan toilet, terpaksa saya pasrah menjadi orang “jalanan” untuk tiga hari itu dengan menumpang di satu-satunya mushala di selatan pulau. Saya berkesempatan berkenalan denganPak Mawi, petani rumput laut yang juga penjaga mushala. Pak Mawi ini tipe seorang pelaut yang sering berpergian ke mana-mana hingga ke laut Sumatra. Ia sudah tinggal di pulau itu sejak bujangan hingga kini cucu-cucunya sudah dewasa. Sehari-hari Pak Mawi berkebun rumput laut, beternak kima, kempa, dan mencari mutiara. Kempa adalah sejenis kerang yang agak besar dan bertanduk-tanduk. Saya membeli satu kilo rumput laut kering darinya hanya seharga 20 ribu dan sebutir mutiara putih seharga 50 ribu sebagai kenang-kenangan. Dia sebetulnya ingin memberi saja, tetapi saya bersikeras untuk membayar. Pak Mawi juga membawakan kami 2 ekor kempa.

Berjalan sedikit ke arah sebelah barat pulau, kita dapat menjumpai bangunan LIPI yang menjadi pusat penelitan sains di pulau itu. Ketika masa Gubernur Ali Sadikin, tempat itu menjadi pusat pengembangan perkebunan rumput laut yang berasal dari Bali ebagai bahan komoditas baru selain ikan. Keberadaan LIPI inilah yang membuat Pulau Pari lebih terjaga dari pulau-pulau lainnya di Kepulauan Seribu.

Tahun ini juga saya pasti akan menjadwalkan untuk kemping lagi di Pantai Pasir Perawan, karena perjalanan awal tahun itu kurang memuaskan karena terganggu dengan hiruk-pikuk pengunjung yang membludak untuk menghabiskan malam tahun baru di pulau itu.

Kalau Anda punya waktu yang pendek untuk liburan tetapi ingin merasakan suasana yang sangat berbeda dengan di Jakarta, mungkin Pulau Pari harus jadi destinasi nomer satu. Banyak paket yang disediakan oleh homestay di Pulau Pari. Dengan hanya sekitar 350 ribu saja, kita bisa menikmati dua hari satu malam di Pulau Pari. Jangan lupa ajak minimal 10 teman, karena kalau kurang, harganya bisa naik lagi. Semakin banyak semakin murah biayanya. Kalau mau extend jadi tiga hari dua malam, biayanya ditambah lagi 100 ribu. Biasanya paket itu termasuk transpot dari Muara Angke, makan tiga kali, sewa sepeda, penginapan, perlengkapan snorkling, sewa perahu, dan guide. Murah meriah, kan?

13676447411926133508
Jangan lupa tanam bakau untuk anak cucu sebelum pulang!
13676454321919164033
Saya dapat hadiah dari BEKAP Adventure